Keindahan Yang Berbahaya (tugas bahasa Indonesia pertemuan 3)

1. Data Publikasi

a.) Judul : Keindahan Yang Berbahaya
b.) Penulis : INDIRA PERMANASARI dan AHMAD ARIF
c.) Penerbit : KORAN HARIAN KOMPAS
d.) Tanggal : Sabtu, 19 November 2011
e.) Nomor Halaman : Halaman 24, Bagian Nusantara
f.) Tema : Tanah Air

2. Sinopsis

Pulau Rakata begitulah namanya yang disebut-sebut sebagai pulau terpencil & terindah yang terletak diantara selat sunda. Pulau yang terbentuk dari material letusan gunung Krakatau sejak tahun 27 Agustus 1883 ini menyajikan pemandangan yang cukup eksotis, Cemara Laut (Casuarina Sp) dan barisan pohon kebiri (Barringtonia Sp) semakin menambah rasa keteduhan dan kenyaman saat berada dipulau ini.

Tak jarang banyak dari para pelancong/wisatawan yang datang untuk sekedar menikmati keeksotisan pemandangan atau mengobservasi pulau Rakata tersebut. Namun, dibalik pesonanya berwisata ke pulau ini bisa dibilang memiliki resiko yang cukup berbahaya. Karena Jaraknya yang tak lebih dari 2 mil dari Gunung Krakatau memaksa kepada setiap wisatawan untuk selalu tetap berhati-hati, karena bisa saja Gunung Krakatau bisa meletus secara tiba-tiba.

Menurut data dari Kepala Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan, bahwa pada tahun 1980-an, pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Amerika Serikat (AS) tewas ketika menyaksikan letusan Gunung Krakatau saat berada di pulau Rakata. Oleh karena itu, Ketua Pos Pemantauan Gunung Krakatau & anak Krakatau, Anton S Tripambudi mengingatkan agar para wisatawan dan nelayan tetap mematuhi imbauan agar tidak mendekati dalam radius 1 - 2 Kilometer. Batasan ini merujuk pada pengamatan saat Krakatau terakhir meletus bisa melontarkan batu sejauh 1,5 kilometer, yakni sudah mencapai perairan disekeliling pulau Rakata.

3. Keunggulan

Apabila dilihat dari bahan artikel dan sinopsis dari tulisan tersebut dapat diperoleh beberapa point-point keunggulan yang dapat dijelaskan diantaranya :

- Segi Bahasa, dalam artikel tersebut secara umum bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) , namun tidak disalahkan bila dalam artikel tersebut masih terdapat kata asing seperti kaum aristokrat. Seharusnya kata “kaum aristokrat” diganti dengan kata orang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.

- Segi Ekonomi, bila dilihat dari segi ekonomi pulau Rakata bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan di bidang pariwisata untuk bangsa indonesia, karena kedatangan para pelancong secara tidak langsung bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

- Segi Pariwisata, Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alam, apabila sumber daya alam tersebut bisa dikelola dengan baik oleh pemerintah, maka secara otomatis objek-objek pariwisata yang berada di Indonesia bisa maju bahkan bisa menjadi icon dari bangsa Indonesia sendiri.

- Segi Pendidikan, Apabila dilihat dari segi pendidikan artikel ini bisa jadi bahan pembelajaran bagi siswa/siswi yang masih dalam tahap belajar atau bisa juga menjadi bahan pembelajaran dikalangan masyarakat umum dengan memiliki tujuan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dimasa yang akan datang.

4. Kelemahan

Dari bahan artikel dan sinopsis yang ada dapat diperoleh kelemahan yang dapat dijelaskan diantaranya :
- Pemerintah & pelaku wisata semestinya bisa lebih cerdas dalam menangkap peluang yang wilayahnya banyak belum tergarap, agar nantinya daerah tersebut bisa menjadi tempat objek wisata favorit bagi para pelancong wisata. Apabila pemerintah dan pelaku wisata bisa saling berkerja sama maka mungkin dalam jangka waktu dekat bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi bangsa Indonesia sendiri.

Peran media pada saat ini sangatlah penting baik media massa maupun elektronik karena dalam perannya media selalu menyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat luas, dalam hal ini seharusnya pemerintah juga mengandeng pihak media sebagai jembatan antara objek wisata dengan masyarakat luas. Untuk mencegah terjadi jatuhnya korban bencana, dalam hal ini pemerintah harusnya lebih banyak menghimbau & menyampaikan informasi bagaimana cara menanggulangi bencana yang tiba-tiba datang.

5. Pendapat Akhir

Pendapat saya tentang artikel ini yaitu seharusnya kita sebagai rakyat bangsa Indonesia harusnya bangga mempunyai banyak sumber daya alam yang begitu melimpah di negeri kita ini. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang bisa menjaga & memanfaatkannya sumber daya alam dengan sebaik-baiknya. Jadikan sumber daya alam ini sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk sumber daya manusia guna mencapai satu tujuan yaitu sumber daya manusia Indonesia yang maju & berguna bagi bangsa Indonesia.

6. Lampiran


Judul : Keindahan yang Berbahaya
Tema : Tanah Air

Tidak terbayangkan, 128 tahun lalu pulau hijau itu merupakan tanah kosong tanpa kehidupan. Di balik pesonanya, pulau terpencil di Selat Sunda menympan sejarah kelam. Tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1883 Krakatau meletus hebat, menyisakan 1/3 tubuhnya yang kemudian dikenal sebagai Pulau Rakata. Namun justru karena letusan dan sejarah Krakatau itulah yang menarik orang dari penjuru dunia untuk datang. Sejak lama letusannya ibarat magnet yang menyedot pelancong di penjuru dunia, bahkan ada rombongan turis yang sengaja datang dengan menggunakan perahu phinisi hanya untuk melihat letusan gunung Krakatau yang sangat luar biasa.

Sebagaimana riwayat terdahulu, asap, dan batu pijar yang lontarkan Anak Krakatau ini menjadi atraksi utama wisata. Bahkan pariwisata dikawasan pantai Anye-Carita hingga Lampung tanpa daya dukung Anak Krakatau dan aktivitasnya. Seorang wisatawan Asing Samuel (20) Italia, datang ke pesisir Pasauran, Banten, bersama ketiga temannya yang tertarik dengan aktivitas Krakatau. Pelancong mengunjungi pulau Rakata dan gunung berapi dengan beragam alasan, salah satu diantaranya menikmati pemandangan yang luar biasa dari pulau Rakata dan gunung Krakatau.

Namun, dibalik dari segala pesonanya berwisata ke pulau Rakata dan gunung Krakatau tetaplah berbahaya. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan bahwa tahun 1980-an, pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Amerika Serikat (AS) tewas saat menyaksikan letusan Anak Gunung Krakatau di Pulau Rakata. Meski dengan adanya peristiwa itu para pelancong tidak mengubris peringatan yang diberikan pemerintah yaitu menjauhi pesisir sejauh 2 kilometer.

Padahal, Krakatau sebenarnya bukan hanya keindahan letusan maupun riwayatnya yang seram. Di pulau Rakata, Pelancong tidak hanya bisa bertualang dan berkesempatan menyaksikan letusan disaat-saat Krakatau memuntahkan isi perutnya, namun juga dapat menikmati flora dan fauna yang hidup di kepulauan itu. Terbih lagi, gugusan Kepulauan Krakatau yang luasnya 13.605 hektar ini masuk kedalam kawasan cagar alam dan telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia (1991) dan merupakan laboratorium alam bagi teori suksesi.

Di pulau Rakata, Pelancong bisa belajar bagaimana kehidupan tumbuh berkembang di daratan yang pernah steril dari kehidupan. Pelaku wisata dan pemerintah semestinya bisa lebih cerdas dalam menangkap peluang yang belum banyak tergarap ini.

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Follower's

 

Arblog Networked

arvis BLOG | Template Ireng Manis © 2010 Free Template Ajah. Distribution by Dhe Template. Supported by Cash Money Today and Forex Broker Info